foto: istimewa

Denpasar, Seruu.com- Ketua Asosiasi Sopir Angkutan Pariwisata Freelance Bali (ASAP-FB), Drs. I Wayan Suata  menilai bahwa aksi pembakaran ban oleh para demonstran di beberapa titik jalan hingga di pusat wisata Kuta, beberapa hari lalu, selain meresahkan wisatawan domestik dan mancanegara yang berlibur, juga mengganggu atau merugikan publik yang hendak lewat dan menggunakan jalan raya.

 

Suata yang dikenal vokal itu cuman menyoroti masalah etika, budaya dan sikap warga Bali cara menyampaikan aspirasi dengan berdemo. Ia menyarankan baik pro maupun kontra mestinya duduk bersama dan mengkaji secara ilmiah alasan menerima maupun menolak reklamasi Teluk Benoa. Baik pro maupun kotra sebaiknya segera duduk bersama berdiskusi di DPR didaerah maupun dipusat untuk menyampaikan aspirasinya.

Dia menegaskan, pihaknya tidak mengomentari yang menolak mapun pro reklamasi Teluk Benoa. Ia mempersilahkan warga demo menolak reklamasi Teluk Benoa asal dilakukan di tempat yang pas dan sesuai sehingga tidak mengganggu masyarakat Bali lainnya serta wisatawan.
 
"Silahkan demo tolak Reklamasi Teluk Benoa, tapi kalau mau demo iya di DPRD lah atau kantor pemerintahan lainnya. Pastikan anggota DPRD atau pejabat itu ada jadi bisa menyampaikan aspirasinya sehingga tidak sia-sia. Kalau demo tidak ada yang mendengar dan merespon sama saja bohong, buang-buang energi, waktu, dan biaya saja," ucap Suata kepada awak media di Denpasar, Kemaren.
 
Wakil Ketua Biro Moda Angkutan Sewa dan Pariwisata DPC Organda Badung itu juga berharap agar usai berdemo dan waktu demonya habis tolong segera pulang dan jangan berbuat yang aneh-aneh yang merugikan orang lain dan jangan sampai mengganggu wistawan maupun masyarakat Bali lainnnya. Ia berharap para pendemo jangan lagi demo sampai menutup fasilitas publik seperti jalan raya, perempatan dan fasilitas umum lainnya.
 
"Kalau setelah demo tolong langsung pulang. Hendaknya jangan bakar-bakar ban atau nutup jalan. Hal itu akan membuat jalan-jalan macet tidak bisa dilalui wisatawan maupun masyarakat Bali lainnya yang mau lewat," kritiknya.
 
Jika demo tolak reklamasi terus-terusan dilakukan dengan cara yang tidak baik seperti sebelum-sebelumnya makan akan berdampak dan berimbas terhadap citra pariwisata yang otomatis akan jelek. Menurut pria berkepala plontos itu, jika citra pariwisata jelek maka wisatawan akan sedikit datang ke Bali. Suata menyayangkan demo-demo tolak reklamasi Teluk Benoa sebelum-sebelumnya yang merugikan pihak umum dan banyak pihak lantara memakai fasilitas umum seperti jalan raya dan fasilitas publik lainnya sehingga membuat sejumlah ruas jalan macet total.
 
"Kalau wisatawan sepi ke Bali siapa yang dirugikan? Masalah pro kontra reklamasi adalah hal wajar dan tidak masalah. Namanya juga Ruwa Bhineda, ada selem ada putih. Hendaknya hal ini dimaknai bahwa ada tempatnya dan tata caranya untuk berdemo," ungkapnya.
 
Suata juga mengkritik pihak kepolisian yang tidak berani bertindak tegas terhadap para pendemo tolak Reklamasi Teluk Benoa yang belakangan terus menjadi-jadi seenaknya sendiri memakai fasilitas publik dan mengganggu wisatawan maupun masyarakat Bali lainnya selaku pengguna jalan tersebut.
 
"Hendaknya Polda Bali punya kewenangan berani bertindak tegas. Polisi harusnya menegur jika pendemo melanggar aturan sehingga tidak merugikan kepentingan publik dan umum. Selain itu polisi harusnya mengecek ppakah ijin demo sudah lengkap belum? Kalau tidak ada izin kenapa tidak ditindak. Sekali lagi saya tidak mengkritisi pro atau kontra reklamasi ya," tandasnya. [yoh]
 

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU