Benni Pangaribuan abang kandung almarhum Andi Pangaribuan yang tewas akibat dianiaya dua oknum polisi di Sel tahanan Polres Tobasa November 2015 lalu datang ke Medan mencari keadilan, Sabtu (23/7)

Medan, Seruu.com- Benni Pangaribuan abang kandung almarhum Andi Pangaribuan yang tewas akibat dianiaya dua oknum polisi di Sel tahanan Polres Tobasa November 2015 lalu datang ke Medan mencari keadilan, Sabtu (23/7). "Saya datang dari Toba mencari keadilan atas kematian adik saya Alm Andi Pangaribuan yang dianiaya dua petugas kepolisian Tobasa November 2015 lalu", ujar Benni Pangaribuan ketika diwawancarai SIB di sekitar Poldasu, Sabtu (23/4).
 

Dalam siaran pers yang diterima Seruu.com, Senin, Benni yang datang sendirian itu membawa poster bertuliskan, "Abang Kandung dari Alm Andi Pangaribuan mencari keadilan atas kematian adik saya di Sel Tahanan Polres Tobasa".
 
Benni mengaku kecewa terhadap penegak hukum atas kematian adik kandungnya. Bukan tak beralasan, penanganan atas pengaduannya kepada Poldasu beberapa bulan lalu belum membawa angin segar.
 
Ia juga mengisahkan kronologis singkat mulai dari penangkapan sampai kepada kematian adiknya yang dinilainya janggal. Menurutnya, alm Andi Pangaribuan diculik dan ada rekayasa oleh Kepolisian menyelipkan lintingan ganja ke Kantong Andi sebelum di bawa ke Polsek Silaen, dan kemudian tewas setelah di Sel Tahanan Polres Tobasa sendiri.
 
Ditambahkannya, awalnya ia mengetahui adiknya meninggal dari Margolang salah seorang Personel Kepolisian kenalannya yang bertugas di Polres Tobasa. Padahal, sebelumnya ia sempat memohon untuk membesuk adiknya, tapi belum diperbolehkan di jenguk oleh piket jaga pada Sabtu, 6 November pagi 2015 lalu. Namun, di tanggal yang sama ternyata sore  harinya, ia diminta untuk datang ke Kantor Polisi, untuk menjemput adiknya di Sel tahanan yang sempat di klaim bunuh diri oleh Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian.
 
Tentu hal itu membuatnya terkejut, diapun bergegas menuju Polres Tobasa bersma keluarganya. Dimintanya, agar Adiknya diautopsi, tapi pihak Polres mengatakan tidak ada dokter forensik lantaran hari Sabtu. Dia pun membawa adiknya ke RSU Porsea ada bekas luka dan lebam, namun hasilnya belum dapat menjawab pertanyaannya. Kemudian keesokan harinya Minggu (7/11) 215 allu diadakan acara adat, dan setelahnya direncanakannya di Bawa aotopsi ke RS Tentara. Namun, saat itu juga Kasad Narkoba menemuinya, kalau memang diatopsi dipersilahkan di bawa ke Rumah Sakit mana saja. Dan tidak sesuai rencana, sebelumnya keluarga berencana membawa autopsi ke RS Tentara Pematang Siantar, tapi surat pengantar dari Polres Tobasa agar jenazah Andi diautopsi di RS Djasamen Saragih.
 
Hasil dari autopsi sendiri, sampai sekarang tidak ada padanya. Atas dasar itu, ia mengadukan kasus tersebut ke  Propam Poldasu tanggal (30/11) lalu, dan terakhir ditangani oleh SPKT beberapa bulan terakhir yang kini kabarnya kasus tersebut berkasnya telah dilimpahkan ke Kejatisu. Namun, hingga kini tidak ada tanda-tanda kepastian hukum yang diperolehnya atas penetapan tersangka terhadap kedua Polisi itu sesuai dengan isi Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) tertanggal 9 Juni 2016 lalu, yang diterima abang kandung korban, Benny Pangaribuan.
 
Sutrisno Pangaribuan ST, Anggota DPR-D Provinsi  menyesalkan hal tersebut. Ia menegaskan, kedua oknum polisi yang ditetapkan sebagai tersangka harus ditahan dan diperiksa secara detail apa-apa saja yang terjadi dalam proses penangkapan. "Jangan - jangan nanti yang dua itu hanya korban sebuah sistem. Aktor intelektualnya belum disentuh. Karena tidak ada alasan Kapolres Tobasa bahwa dia tak bertanggung jawab. Karena pertanggung jawaban penuh ada sama Kapolres," paparnya.
 
Menurutnya, sekecil atau sebesar apapun permasalahan di Mapolres Tobasa itu menjadi tanggung jawab Kapolres bukan anggotanya. "Jadi kalau seperti ini Kapolres, saya minta kepada Kapoldasu supaya dibebas tugaskan. Saya juga minta pada Kapoldasu supaya memeriksa Kasat Narkoba," ungkapnya.
 
Ketua DPD Pospera Sumut Liston Hutajulu ST, mengatakan, dalam waktu dekat akan kembali menyambangi Poldasu bersama Benni Pangaribuan, untuk memperoleh kepastian hukum. Ia juga menyesalkan, kenapa kepada 2 tersangka diperlakukan istimewa di Republik ini, dan tidak dilakukan tindakan penahanan, dan kini malah masih dibiarkan aktif bertugas di Tobasa. Padahal sudah jelas, sesuai hasil penyidikan keduanya telah terbukti bersalah. 
 
Ia juga berharap anggota dewan dari Dapil Tobasa seharusnya angkat bicara mengenai persoalan kematian Andi Pangaribuan. Menurutnya, Kasus ini sudah berlarut-larut namun tidak  mendapatkan kepastian Hukum yang jelas.
 
Ia menilai, DPRDSU dari dapil Tobasa sampai sekarang masih membisu tidak angkat bicara soal kasus rakyat kecil sampai kapan mereka akan membisu . Buat Anggota DPR-RI Trimedya Panjaitan dari dapil Sumut II komisi III agar mendorong Kapolri dan Kapolda untuk mengusut tuntas kasus kematian Andy Pangaribuan. [sm/ms]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU