Ilustrasi (Istimewa)
Situasi di daerah itu memang masih belum tenang karena adanya sengketa antardua desa itu memperebutkan lahan garapan. Petang tadi, ada warga Desa Redontena yang sedang berada di kebun dan ditembak dengan menggunakan senjata rakitan oleh warga Desa Adobala

Kupang, Seruu.com - Ama Gilo Miten (60), salah seorang warga Desa Redontena, Kecamatan Klubagolit, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur tewas dibunuh, Senin, (1/7/13), petang, dalam kasus sengketa memperebutkan lahan garapan antarwarga Desa Redontena-Adobala.

Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin yang dihubungi dari Kupang, Senin malam, mengakui adanya insiden tersebut dan mengatakan korban dimutilasi oleh pihak lawan yang diduga dari Adobala.

"Situasi di daerah itu memang masih belum tenang karena adanya sengketa antardua desa itu memperebutkan lahan garapan. Petang tadi, ada warga Desa Redontena yang sedang berada di kebun dan ditembak dengan menggunakan senjata rakitan oleh warga Desa Adobala," katanya.

Saat ditembak, korban terjatuh kemudian dipotong dalam beberapa bagian. Warga Desa Adobala yang membunuh korban kemudian berteriak meminta agar warga Redontena datang mengambil jasad korban, katanya menjelaskan.

"Warga kemudian bersama aparat keamanan mendatangi tempat kejadian untuk mengambil jasad korban tetapi ada beberapa bagian tubuh korban tidak ditemukan," katanya.

Dia mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan aparat keamanan, baik TNI maupun Polri untuk terjun ke lokasi kejadian guna mengamankan situasi.

Perang tanding antarwarga dua desa di Pulau Adonara itu pada 5 Juni 2013 sempat berkecamuk dan menyebabkan dua warga desa terkena tembakan senjata rakitan.

Perang tanding antarwarga dua desa di Pulau Adonara tersebut dipicu persoalan yang berlarut-larut sejak lama, yakni perebutan lahan garapan di perbatasan dua desa.

Bupati Lagadoni menambahkan perang antarwarga dua desa itu dipicu masalah lahan garapan di batas wilayah kedua desa.

Persoalan itu sudah lama dan menjadi sejarah pertarungan warga kedua desa. Perang tanding sudah berlangsung sejak 1952 dan kemudian kembali terjadi pada 1982.

Dia mengatakan pemerintah telah berupaya mempertemukan warga dua desa itu untuk mencari jalan keluar, tetapi selalu mengalami kebuntuan karena masing-masing pihak tetap bertahan pada prinsip dan menolak semua solusi yang ditawarkan pemerintah. [ant/jy]

Tags:

Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar