Suasana Bentrok di Lampung Selatan

Banda Aceh, Seruu.com - Negara dalam hal ini pihak kepolisian dianggap gagal memberikan perlindungan terhadap warga negara, terkait kasus bentrokan di kediaman Teungku Ayub di Gampong Jambo Dalam, Plimbang, Bireuen. Akibatnya, baik kelompok masyarakat maupun kelompok Ayub, sama-sama jatuh korban jiwa.
 

Seharusnya, konflik warga seperti ini mampu ditangani lebih dini. Sebab, ini bukan kasus pertama terhadap Ayub. Sebelumnya, kasus yang sama dengan ekses yang berbeda telah pernah terjadi di Jambo Dalam.

Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, Sabtu (17-11-2012). Zulfikar mengatakan, negara tidak efektif melakukan perlindungan terhadap kedua kelompok masyarakat yang bertikai.

Koalisi mendesak Kepolisian Aceh untuk segera menindaklanjuti dugaan adanya oknum polisi yang melakukan pelanggaran kode etik dengan melumpuhkan Tgk Ayub dan seorang pengikutnya dengan cara di tembak di kaki.

Juga dugaan setelah Ayub berhasil diamankan oleh polisi, kemudian dikembalikan ke massa untuk dihakimi secara massal, yang berakhir dengan pembakaran terhadap almarhum dan pengikutnya.
Menurutnya, Polda Aceh harus segera turun tangan, agar tidak menjadi polemik berkepanjangan di tengah masyarakat dan berpotensi meluasnya konflik antar warga.


Saat dikonfirmasi terkait adanya isu penembakan terhadap Tgk Ayub, Kapolres Bireuen, AKBP. Yuri Karsono, S.IK, mengatakan pihak polisi memang benar ada melepaskan tembakan peringatan. Untuk isu tembakan untuk melumpuhkan Ayub, dia mengatakan masih mendalaminya. Menurutnya saat itu suasana sangat kacau sekali.

Melalui pesan singkat, Yuri juga mengatakan, pihaknya tidak lambat dalam menangani perkara tersebut. Dari awal pihaknya sudah dapat informasi dan sudah ada upaya pencegahan dan pengamanan dari Polsek Jeunib dan Pospol Plimbang.

Namun karena spontanitas Ayub yang memberikan perlawanan, membuat amuk massa tidak terbendung. Yuri juga mengatakan, kalau pada saat amuk massa itu pihaknya tidak efektif memberikan perlindungan, jumlah korban yang jatuh akan tidak terbendung, baik itu dari pihak masyarakat maupun dari pihak polisi. Sebab jumlah massa kira-kira 1.500 orang.

Saat ditanya tentang rumor yang mengatakan bila sebelumnya polisi sudah berhasil mengamankan Ayub, namun kemudian memberikannya kepada massa, karena ada ancaman bila Ayub tak diserahkan, maka mobil polisi akan dibakar.

Dengan pesan pendek bernada tegas, Yuri Karsono menulis bahwa dia merasa bila nurani anggotanya tidak seperti itu. Polisi saat itu sudah tidak memperhatikan keselamatan jiwanya dalam melaksanakan tugas.


Terkait isu penembakan terhadap Tgk Ayub dan pengikutnya, Muntasir, Kadiv Humas Polda Aceh, Kombes Gustav Leo mengatakan bahwa penembakan itu sudah sesuai dengan prosedur. Kadiv Humas mengatakan, polisi terpaksa melumpuhkan keduanya di kaki karena berupaya menyerang petugas dan warga dengan senjata tajam..

“Melihat Teungku Ayub menyerang sebagian warga, polisi berupaya mencegah, tapi dia malah balik menyerang petugas sehingga dilumpuhkan dengan dilakukan penembakan di kaki,” katanya kepada wartawan di Banda Aceh, Sabtu (17-11-2012).

Menurut Gustav jumlah massa yang mendatangi lokasi pengajian Teungku Ayub saat itu ada sekira 500 orang, meminta penutupan pengajian Teungku Ayub yang diduga sesat. Saat mereka tiba di lokasi, suasana di komplek pengajian Teungku Ayub gelap karena ia dan pengikutnya memilih menyerang.

Ketika itu situasi memang sedang memanas, dimana antara kelompok Teungku Ayub dan massa yang datang terlibat saling serang. Setelah ditembak di kaki, Teungku Ayub langsung diamuk massa hingga merenggang nyawa. Nasib serupa dialami Muntasir.

Jasad keduanya kemudian diletakkan massa ke dalam kobaran api yang menghanguskan balai pengajian. [ndis]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar