Banjarmasin, Seruu.com - Ratusan hektare tambak udang dan ikan lainnya di Kalimantan Selatan terbengkalai setelah beberapa perusahaan importir perikanan dari berbagai negara menghentikan permintaan pengiriman sebagian sektor perikanan dari daerah ini beberapa tahun lalu.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Rahmadi Kurdi di Banjarmasin, Selasa mengatakan, tambak-tambak yang ditinggalkan masyarakat tersebut kini dibiarkan begitu saja, belum ada upaya untuk reboisasi dengan melakukan penanaman kembali hutan mangrove yang dibabat.

"Banyak kawasan hutan mangrove yang dibabat masyarakat untuk budidaya perikanan seperti udang dan bandeng kini dibiarkan menjadi lahan terbuka," katanya.

Pembukaan tambak tersebut, kata dia, menjadi salah satu pemicu paling besar terjadinya kerusakan kawasan mangrove di pesisir Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Banyaknya kawasan mangrove yang kini berubah menjadi areal tambak dan kemudian ditelantarkan begitu saja, menjadi masalah lingkungan yang sulit untuk diatasi.

Menurut dia, pembabatan mangrove tersebut hampir terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, mulai dari Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut hingga Kabupaten Banjar.


"Secara pasti saya tidak tau berapa jumlah kawasan mangrove yang telah rusak, namun kerusakan sebagian besar disebabkan karena budidaya tambak," katanya.

Selain itu, masyarakat juga mulai memanfaatkan mangrove sebagai salah satu bahan baku perumahan dan sebagian untuk keperluan kayu bakar, sehingga pembabatan mangrove kini sulit dikendalikan.

Di Kabupaten Banjar seperti di Kecamatan Aluh-Aluh, yang meliputi Tabunganen, Bakambat, Sungai Musang juga terjadi pembabatan mangrove untuk tambak udang maupun kepiting.

"Kita tidak memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan di lapangan karena kita bukan badan teknis tetapi hanya koordinator, yang berwenang adalah dinas terkait seperti perikanan, kelautan maupun kehutanan," katanya.

Sebelumnya Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel Bambang Dahono Adi mengatakan, saat ini cukup besar wilayah konservasi yang mengalami kerusakan antara lain akibat penebangan kawasan mangrove, tambang dan lainnya.

Sebagai contoh, kata dia, cagar alam Pulau Sebuku sekitar 40 persen dari kawasan tersebut kini telah rusak.

Mengantisipasi agar kerusakan alam tersebut berlanjut, pihaknya telah mengambil beberapa langkah, antara lain melakukan kerja sama dengan perusahaan di sekitar lokasi untuk melakukan penanaman pohon. "Kita juga telah mengambil alih pengelolaan kawasan Pantai Batakan," katanya. [ndis]

KOMENTAR SERUU