Sidang Marwan Adli yang berlangsung malam hari
Putusan hakim ini setelah melalui pertimbangan sejumlah hal yang memberatkan terdakwa, diantaranya perbuatan Marwan Adli yang dilakukan disaat pemerintah sedang gencar-gencarnya menggelar program memerangi tindak kejahatan narkoba. Lainnya, terdakwa yang seorang PNS tidak bisa memberi teladan dan justru terlibat dalam bisnis narkoba hingga menikmati hasilnya

Cilacap, Seruu.com - Mantan Kalapas Narkotika Pulau Nusakambangan, Marwan Adli divonis hukuman penjara selama 13 tahun dan denda sebanyak Rp 10 milyar atau subsider 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Cilacap (Jateng), Kamis (12/1/2012) malam.  Sidang yang dipimpin oleh hakim ketua W.H Van Keeken dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dan berakhir hingga malam hari sekitar pukul 21.00 WIB.  

 

Vonis Marwan lebih ringan tujuh Tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eko Bambang sebelumnya. Sebaliknya denda dari Majelis hakim jauh lebih dari tuntutan jaksa yang hanya Rp 1 milyar tetapi dengan subsider satu tahun kurungan.

Putusan hakim ini setelah melalui pertimbangan sejumlah hal yang memberatkan terdakwa, diantaranya perbuatan Marwan Adli yang dilakukan disaat pemerintah sedang gencar-gencarnya menggelar program memerangi tindak kejahatan narkoba. Lainnya, terdakwa yang seorang PNS tidak bisa memberi teladan dan justru terlibat dalam bisnis narkoba hingga menikmati hasilnya.

Sedangkan hal yang dianggap meringankan yakni, pengabdian terdakwa sebagai seorang PNS yang sudah puluhan tahun. Terdakwa juga telah mengembalikan sejumlah uang sebagai kerugian Negara termasuk sikap sopan dan penyesalan dari terdakwa.

Putusan untuk terdakwa Marwan Adli sesuai dengan dakwaan primer Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan subsider Pasal 112 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dakwaan kedua sesuai Pasal 137 huruf b UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan dakwaan ketiga sesuai Pasal 5 ayat 1 juncto Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sidang yang dipimpin hakim W.H Van Keeken dengan dua anggotanya Hasanudin dan Santosa itu memang cukup menyedot perhatian publik dan media massa. Pengawalan puluhan petugas pun dilakukan sejak pagi sebelum sidang akhirnya dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Sidang juga dikawal ketat oleh pihak BNN (Badan Narkotika Nasional) pusat, Jateng hingga Kabupaten Cilacap, termasuk kehadiran pihak GRANAT (Gerakan Anti Narkotika) dari tingkat pusat hingga kabupaten Cilacap.

Atas putusan majelis hakim, terdakwa Marwan Adli menyatakan banding. Sebelum meninggalkan ruang sidang, terdakwa sempat membagikan rilis kepada wartawan yang antara lain berisi tentang pernyataan sikapnya mengenai proses penyidikan dengan rilis media yang dianggap tidak mengindahkan azas praduga tak bersalah.

Seperti diberitakan Seruu !! sebelumnya, terkuaknya kasus peredaran Narkoba dalam Lapas Nusakambangan berawal dari operasi pengungkapan kasus pengendalian Narkoba dari Lapas yang dilakukan Hartoni selaku salah satu Narapidana Lapas Narkotika Nusakambangan pada tanggal 8 Maret 2011 silam. Operasi itu merupakan kerjasama antara BNN dan Polres Cilacap, dan dipimpin langsung oleh Direktur Narkotika Alami BNN, Brigjen Pol. Benny J. Mamoto. Operasi di Nusakambangan ini merupakan pengembangan dari berbagai operasi sebelumnya.

Kasus Hartoni terkuak, setelah ia digerebek oleh satuan Narkoba Polres Cilacap. Barang bukti yang didapat adalah shabu sebesar 380 gram. Dari temuan ini, pengembangan kasus pun berlanjut, dan menyeret 3 orang dari jajaran petugas Lapas, yaitu Marwan Adli, Kepala Lapas Narkotika, Iwan Syaefudin dari Kesatuan Pengamanan Lapas, dan Fob Budhiyono, Kepala Sub Bidang Pembinaan dan Pendidikan.

Petugas kemudian melakukan penggeledahan ruangan milik ketiga tersangka. Dari hasil penggeledahan ruang kerja Kalapas, petugas mengamankan 1 unit CPU dan 16 unit telepon genggam. Sementara itu, dari ruangan Kepala Sub Bidang Pembinaan dan Pendidikan, petugas menyita 3 unit laptop, dan 12 unit telepon genggam. Sedangkan dari ruangan Kesatuan Pengamanan Lapas, petugas mengamankan 1 unit laptop, 3 unit telepon genggam, 1 STNK, 1 unit motor, dan 1 unit mobil, serta catatan nomor rekening dan nomor ponsel milik para napi.

Penyelidikan lebih lanjut, dilakukan terhadap anggota keluarga Marwan Adli yang diduga kuat menerima transfer dana dari hasil penjualan Narkoba. Penangkapan pertama dilakukan terhadap Rinal Kornial, seorang mahasiswa semester satu Indocom, Cilacap, yang juga cucu Marwan Adli. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan anggota keluarga lainnya, yaitu Andhika Permana, Dhiko Aldila, juga ditangkap May Wulandari, dan Rita Juniati karena diduga membantu Hartoni mengalirkan dana ke Kalapas melalui keluarganya.  [py]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU