SeruuMart - Digital Marketplaces
Rabu, 28 Juni 2017

Bekasi, Seruu.com - Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, bertekad akan mengurangi 40 persen musibah banjir di wilayah setempat melalui normalisasi pemisahan saluran air di tujuh titik lokasi lintasan Kali Bekasi dan Kalimalang.

"Pemisahan saluran air atau `crossing` tersebut melintas dari wilayah utara ke selatan yang tersebar di tujuh titik lokasi," kata Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi, Momon Sulaeman, di Bekasi, Kamis (12/1/2012).

Menurut dia, crossing itu masing-masing berlokasi di Villa Meutia Kirana, Jatibening Baru, Kali Cakung, Buaran, Tol Jatiluhur, Simpang Unisma, dan Kecamatan Jatimulya perbatasan Kabupaten Bekasi. "Namun, crossing di Perumahan Villa Meutia Kirana, Jalan Raya Cut Meutia, Bekasi Timur, tidak mendapat izin dari PT Jasa Marga selaku pemilik lahan," katanya.

Namun pihaknya berharap agar PT Jasa Marga mau berperan aktif mendukung program tersebut minimal dengan memperbesar saluran air Kalimalang yang melintas di sisi Jalan Tol Jakarta-Cikampek guna mengurangi genangan.

"Kami belum dapat memastikan berapa besaran dana unuk kegiatan tersebut karena membutuhkan waktu yang cukup panjang. Namun sebagai gambaran positifnya bisa mengurangi sekitar 40 persen banjir di wilayah timur Kota Bekasi," ujarnya.

Berdasarkan data Disbimarta Kota Bekasi, daerah rawan banjir di Kecamatan Bekasi Timur di antaranya adalah, Perumahan Danita, Perum Bekasi Jaya Indah, Perumnas III dan Perum Villa Kartini.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Air Disbimarta Kota Bekasi, Nurul Furqon, mengatakan pihaknya sudah mempersiapkan anggaran sebesar Rp70 miliar guna penanganan banjir.

Anggaran tersebut, kata dia, digunakan untuk kegiatan pemeliharaan pompa dan pintu air di beberapa lokasi perumahan yang rawan banjir di sepanjang aliran Kali Bekasi.

"Kota Bekasi berada di daerah kemiringan 0,5 persen, `crossing` sejumlah kali yang berada di tengah Kota Bekasi tentunya membuat arus aliran air semakin lambat, sehingga membuat Kota Bekasi rentan dilanda banjir. Untuk itu dibutuhkan segera normalisasi," demikian Nurul.
[ms]

KOMENTAR SERUU