Kampar, Seruu.com - Polres Kampar, Provinsi Riau, telah menetapkan tiga orang tersangka kasus pengrusakan Kantor Desa Muara Uwai pada Jumat (6/1) lalu,  masing-masing MH, KR dan Zubir (diduga otak pelaku).

Kapolres Kampar, AKBN Trio Satoso melalui Kapolsek Bangkinang Kota, Iptu Nurman, Selasa, mengatakan ketiga tersangka itu kini sudah ditahan di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kampar, sejak hari Minggu (8/1) sekitar pukul 21.00 WIB.

Aksi pengrusakan kantor desa itu dipicu oleh ketidakpuasan para pendukung calon Kepala Desa (Kades) yang kalah.

Sebelumnya pihak kepolisian telah memeriksa 20 terduga pelaku pengrusakan Kantor Desa Muara Uwai, Kecamatan Bangkinang Seberang, itu, namun hasil pemeriksaan hingga Minggu malam, hanya menetapkan tiga tersangka.

"Hari minggu malam, Polsek Bangkinang telah menetapkan tiga orang tersangka masing-masing MH, KR dan Zubir. Hasil pemeriksaan menunjuk Zubir diduga sebagai otak pelaku dari aksi itu. Penangkapan Zubir dilakukan di kediamannya", kata IPTU Nurman.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada Jumat (6/1) sekitar pukul 14.30 WIB, terjadi aksi anarkis di Kecamatan Bangkinang Seberang oleh sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 20 orang.

Aksi anarkis itu langsung mengarah ke kompleks Kantor Desa Muara Uwai. Ketika itu, sekelompok orang tiba-tiba menyerang, menghancurkan kaca-kaca kantor, memporakporandakan kursi dan mengacaukan suasana rapat desa.

Diduga, penyerangan itu dipicu oleh kekalahan Zubir dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) yang digelar Nomvember 2011.

Tak puas dengan kekalahannya, diungkapkan dengan merusak kanto desa. Selain memecahkan kaca-kaca jendela, mereka juga menyegel kantor Kades.

 Sebelumnya, Bupati Kampar, H Jefry Noer menyesalkan dan mengecam sikap sejumlah warga yang melakukan aksi pengrusakan Kantor Kepala Desa Muara Uwai, Kecamatan Bagkinang Seberang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dengan alasan tak puas terhadap hasil Pilkades.

"Saya kaget dan malu dengan adanya insiden pengrusakan Kantor Kepala Desa (Kades) di Muara Uwai, apalagi ini kampung saya. Saya menyesal dan mengecam aksi anarki seperti ini," tandasnya, di Kantor Camat Bangkinang Seberang.

Jefry sengaja datang dan memberikan pengarahan pada acara pelantikan Kades Muara Uwai tersebut.

"Saya juga heran, kenapa warga kita sampai sanggup mempertontonkan hal yang buruk dan mempermalukan diri sendiri dengan aksi anarkis begini," tutur Jefry Noer.

Ia berharap, kejadian ini harus menjadi pembelajaran oleh semua pihak, sehingga tidak terjadi lagi.

"Melakukan protes dalam alam demokrasi ini sah-sah saja. Namun harus beretika dan beradab. Insiden ini menunjukkan kita belum mampu menerima kekalahan dan menghormati hasil pilihan masyarakat," tegasnya.

Ia menambahkan, dapat memahami kekecewaan pendukung calon Kades yang kalah. "Namun sama sekali tidak bisa diterima cara-cara yang memalukan seperti ini," ujarnya.

Jefry lalu meminta agar Camat dan Bagian Pemerintahan Desa (Pemdes) Kabupaten Kampar untuk melakukan cek sert 'ricek' terhadap calon-calon kepala desa, termasuk 'track-record'nya, sebelum ikut Pilkades.

"Saya minta kepada Camat dan Pemdes untuk mencoret nama-nama calon Kades yang tidak mempunyai kelakuan yang baik. Mau jadi kepala desa saja seperti ini. Saya saja kalah untuk menjadi bupati lima tahun lalu tidak bersikap berlebihan,"  tuturnya.

Jefry Noer yang baru memenangkan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) saat kedua kalinya mengikuti perhelatan demokrasi itu pada 2011 lalu, mengingatkan, tidak akan melakukan campur tangan dalam proses Pilkades. "Tetapi, jika sudah terjadi pengrusakan atas aset daerah, apalagi itu fasilitas publik, itu harus diproses. Namun, saya tak akan campur tangan dalam hal proses hukumnya," tegasnya lagi.

Dikatakannya lagi, kejadian ini harus menjadi pembelajaran semua pihak, karena konsekuensi dari pengrusakan aset jelas bertentangan dengan hukum.

Kepada kepala desa terpilih, Jefry Noer mengatakan, tugas Kades sangat berat. "Selain kepala pemerintahan di desa, juga menjadi panutan oleh masyarakat. Segala perkataan, perbuatan dan tindak tanduk Kades akan dilihat oleh masyarakat," katanya.

Karena itu, ia mengharapkan, jadikanlah jabatan itu sebagai amanah.  "Pemimpin itu ibarat berdiri antara surga dan neraka. Jika mampu menjaga amanah, saya yakin kita akan selamat dunia akhirat. Tapi jika tidak, tunggu saja azab Allah," ujar Jefry Noer. [ndis]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU