Jakarta, Seruu.com - Pihak kepolisian membantah sejumlah kabar terkait tindakan pencurian 15 tandan pisang di kebun pisang milik Wardoyo Mungalin dan Simun warga Desa Kalisabuk Kecamatan Kesugihan, Cilacap, pada 11 November lalu.

Menurut Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Boy Rafli Amar, setelah dilakukannya investigasi langsung di Polres Cilacap kedua tersangka Kuatno bin Sukirwan, 21 dan Topan bin Wirdasan, 25, kondisinya normal dan tidak mengalami cacat mental, namun salah satu dari mereka ada yang memiliki bibir sumbing.

"Kedua tersangka dalam kondisi normal dan tidak mengalami cacat mental, hanya saja salah satu tersangka memiliki bibir sumbing sehingga tidak jelas dalam berbicara," ujarnya Kamis (5/1).

Selain itu pihak Kepolisian juga membantah terkait adanya pencabutan laporan dari korban, namun berupa surat permohonan keringanan hukuman. "Korban pencurian tidak pernah mengajukan pencabutan laporan tetapi korban mengajukan surat permohonan keringanan hukuman dari Kepala Dusun dan pihak keluarga tersangka," bunyi siaran pers Divisi Humas Mabes Polri.  

Sebelumnya kedua tersangka ditahan pihak kepolisian setempat dengan tuduhan pencurian pisang. Polisi menahan barang bukti berupa pisang 15 tandan, golok 1 buah, sepeda motor 2 unit dan keranjang 2 unit. Pihak keluarga menerima surat resmi terkait penangkapan dan penahanan pada 13 November 2011.
 
Saat ini berkas perkara pencurian pisang terebut sudah P-21 (dianggap lengkap oleh penuntut umum) sebagaimana surat pemberitahuan P-21 dari Jaksa Penuntut Umum (JPU)pada tanggal 23 Desember 2011, dan siap dilimpahkan oleh penyidik kepada JPU. Saat ini kedua tersangka masih dititipkan dilapas Cilacap dan tinggal menunggu penyerahan ke JPU.

Seperti diberitakan sebelumnya menurut kakak Kuanto, Teguh Sumarno, adiknya yang menderita keterbelakangan mental itu bersama temanya Topan tertangkap saat mencuri pisang 15 Tandan di Desa Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, pada 11 November lalu. "Saya yakin Kuatno tidak memahami perbuatannya karena dia menderita keterbelakangan mental. Dia tidak bisa baca tulis, SD juga tidak lulus karena tidak mampu mengikuti pelajaran," katanya Saat ditemui wartawan di rumahnya Jalan Anoa, Kelurahan Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara, Rabu (4/1) kemarin.

Sementara iitu ibunda Kuatno, Kasiyem (60) menuturkan bahwa dalam keseharian anaknya sering mengamuk seiring keterbelakangan mental yang dialaminya. Dan bahkan saat ditugasi membeli belanjaan sering molor untuk pulang. "Dia berangkat ke pasar biasanya pukul 08.00 WIB, namun pulangnya kadang sampai pukul 15.00 WIB. Meskipun demikian, barang belanjaan tetap dia peroleh," katanya.

Terkait dengan kasus pencurian pisang tersebut, kakak tersangka mengaku telah mendapat surat peryataan dari pemilik pisang, Mungalim, 42 bahwa tidak melakukan tuntutan atas tindakan Kuatno yang melakukan pencurian pisang. "Saya, secara sadar tidak lagi mempermasalahkan pencurian pisang tersebut dan tidak lagi mempersalahkan mereka. Bahwa saya juga tidak pernah mengajukan tuntutan serta meminta keringanan bagi pelaku," tulis Mungalim dalam surat pernyataan di atas meterai. [jf]

KOMENTAR SERUU