Seruu.com - Baru saja kasus sendal jepit yang menjerat AAL mencuri perhatian pubik tanah air dan bahkan internasional, kini kasus baru yang memperlihatkan peta penagakan hukum tanah air yang dinilai memilukan kembali mencuat, yakni remaja cacat mental Kuatno (22) harus mendekam dilapas Cilacap karena tertangkap mencuri pisang.

"Kasus AAL bukan satu-satunya, ada anak dengan keterbelakangan mental, ditahan di penjara Cilacap," kata Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), M Ikhsan saat berbicara dengan wartawan melalui sambungan telphon Kamis (5/1).

Berdasarkan sejumlah informasi yang dihimpun, menurut kakak Kuanto, Teguh Sumarno, adiknya bersama temanya Topan (25) tertangkap saat mencuri pisang 15 Tandan di Desa Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, pada 11 November lalu.

"Sebenarnya buah pisang yang diambil Kuatno tidak semuanya masak karena ada beberapa yang masih kecil. Saya yakin Kuatno tidak memahami perbuatannya karena dia menderita keterbelakangan mental. Dia tidak bisa baca tulis, SD juga tidak lulus karena tidak mampu mengikuti pelajaran," katanya Saat ditemui wartawan di rumahnya Jalan Anoa, Kelurahan Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara, Rabu (4/1) kemarin.

Ibunda Kuatno, Kasiyem (60) menuturkan bahwa dalam keseharian anaknya sering mengamuk seiring keterbelakangan mental yang dialaminya. Dan bahkan saat ditugasi membeli belanjaan sering molor untuk pulang. "Dia berangkat ke pasar biasanya pukul 08.00 WIB, namun pulangnya kadang sampai pukul 15.00 WIB. Meskipun demikian, barang belanjaan tetap dia peroleh," katanya.

Terkait dengan kasus pencurian pisang tersebut, kakak tersangka mengaku telah mendapat surat penryataan dari pemilik pisang, Mungalim, 42 tidak melakukan tuntutan atas tindakan Kuatno yang melakukan pencurian pisang. "Saya, secara sadar tidak lagi mempermasalahkan pencurian pisang tersebut dan tidak lagi mempersalahkan mereka. Bahwa saya juga tidak pernah mengajukan tuntutan serta meminta keringanan bagi pelaku," tulis Mungalim dalam surat pernyataan di atas meterai.

Bahkan, dalam surat pernyataan mewakili warga kalisabuk, Ketua RT 01/ RW03 Riyadi bersama Kepala Dusun Gumelar Djamingun Ashad telah meminta kepada aparat penegak hukum, supaya pelaku diberikan keringanan hukuman. "Surat pernyataan ini disampaikan agar Kuatno diberi keringanan hukuman, karena memang anaknya terbelakang mentalnya," ungkap Teguh, kakak Kuatno lagi.
   
Keluarga berharap agar Kuatno yang mengalami keterbelakangan mental dibebaskan dan tidak dilanjutkan ke proses persidangan. Karena pencurian pisang tersebut selain pihak pemilik sudah mencabut dan menyatakan tidak keberatan atas pisang yang dicuri, tindakan Kuatno juga hanya ikut-ikutan temannya. "Mengapa Kuatno yang mengalami keterbelakangan mental harus menjalani proses hukuman seperti orang normal," ujar ibunda Kuatno. [jf]

KOMENTAR SERUU