Lumajang, Seruu.com - Hasil pemantauan rutin petugas vulkanologi di Pos Pemantauan Gunung Api di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Semeru mengalami peningkatan.

Hingga Senin kemarin, menurut catatan petugas selama 24 jam terakhir terjadi 61 kali letusan, 2 kali guguran, 2 kali vulkanik dalam, dan 2 kali tektonik jauh. Sehari sebelumnya terjadi 75 kali letusan, 2 kali guguran, 1 kali gempa vulkanik dalam, dan 2 kali gempa tektonik jauh.

Selain itu, sejak pekan lalu mulai teramati adanya gempa vulkanik dangkal. Padahal sebelumnya jarang terjadi. Kondisi kegempaan juga terus fluktuatif. Jumlah letusan terbanyak mencapai 88 kali. Kendati demikian status gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu masih pada level waspada.

Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Rochani, mengatakan Gunung Semeru memiliki keunikan tersendiri dibandingkan gunung api lainnya. “Jika Gunung berapi lainnya, rutinitas letusan bisa berakibat bahaya. Tapi ini berbeda dengan ciri Gunung Semeru yang ketika letusan jarang terjadi malah dikhawatirkan berbahaya,” ujar Rochani, Senin, (02/1/2012).

Dia menambahkan, letusan Gunung Semeru rutin terjadi setiap 45 menit sekali. Letusan biasanya juga melontarkan material berupa debu yang tingginya bisa mencapai seribu meter dan akan mengakibatkan hujan abu jika terbawa angin dari puncak.

BPBD Kabupaten Lumajang tetap mengimbau masyarakat di sepanjang lereng Semeru, terutama di sepanjang daerah aliran lahar, untuk tetap waspada. Hal itu karena kekhawatiran turunnya awan panas dari puncak Semeru yang bisa terjadi sewaktu-waktu. “Potensi bencana berupa lahar dingin tetap mengancam,” ucap Rochani.

Saat ini material hasil erupsi vulkanik banyak menumpuk di puncak Semeru, yakni di hulu Besuk kembar. Tidak bisa diperkirakan kapan material vulkanik yang menumpuk tersebut tumpah menjadi lahar dingin yang mengancam keselamatan warga. [ndis]

KOMENTAR SERUU